PROFIL

Profil SMA Walisongo Sragen

Satuan Pendidikan adalah garda terdepan penyelenggaraan sistem pendidikan. Agar semua program pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan baik, maka harus didukung oleh perencanaan yang baik. Salah satu dokumen yang harus disiapkan di dalam sistem perencanaan di sekolah adalah dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum memiliki posisi strategis karena secara umum kurikulum merupakan deskripsi visi, misi dan tujuan pendidikan suatu bangsa, di dalamnya terkandung sentral muatan-muatan nilai yang akan ditransformasikan kepada peserta didik.

Arah dan tujuan kurikulum mengalami pergeseran dan perubahan seiring dengan dinamika perubahan sosial yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Karena sifatnya yang dinamis dalam menyikapi perubahan, maka kurikulum pendidikan harus fleksibel dan futuristik. KTSP merupakan blue-print proses pembelajaran yang dirancang oleh Satuan Pendidikan.

Ketimpangan yang terjadi pada rancangan dokumen KTSP karena kurangnya respon terhadap perubahan sosial akan menimbulkan konsekuensi lahirnya output pendidikan yang “gagap” dalam beradaptasi dengan kondisi sosial dimaksud. Di sinilah peran penting rancangan dokumen KTSP dalam mewujudkan keunggulan mutu lulusan yang yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab, kemasyarakatan dan kebangsaan, sebagaimana tujuan Pendidikan Nasional.

Pelaksanaan K-13 berfokus pada mewujudkan kompetensi yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan wajib menyusun dokumen KTSP sebagai acuan untuk mewujudkan target kompetensi siswa yang menjadi targetnya. Dokumen KTSP diharapkan dapat berfungsi sebagai acuan yang mengarahkan seluruh pemangku kewenangan dalam melaksanakan kurikulum 2013.

Dengan berfungsinya KTSP sebagai acuan maka semua pihak dapat fokus pada pencapaian tujuan, menerapkan aturan main dalam menerapkan prosedur program, serta proses kegiatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan siswa untuk mengembangkan kompetensi dirinya dalam perubahan kehidupan pada abad ke-21. Di samping itu, diharapkan pula seluruh pergerakan para pemangku kewenangan lebih fokus dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan baik pendidikan dan pembelajaran terutama dalam mengelola program peminatan; menata struktur kurikulum, memetakan beban belajar siswa, dan menyusun pedoman pelaksanaan kegiatan intra dan ekstrakurikuler, pedoman akademik, dan instrumen evaluasi penyelenggaraan kurikulum.

Dalam mendukung pemenuhan dokumen dan implementasi kurikulum pada tingkat satuan pendidikan dipandang perlu membentuk Tim Pengembang Kurikulum dan Tim Penjaminan Mutu yang mengelola sistem evaluasi proses dan pencapaian program pelaksanaan kurikulum. Kedua Tim merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya menjadi komponen sistem penjaminan terwujudnya proses pelaksanaan kurikulum yang efektif untuk terwujudnya keunggulan mutu lulusan.

Demikian juga dengan SMA Walisongo Karangmalang, KTSP dianggap penting untuk disusun sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan. KTSP disusun dengan mengacu prosedur yang ada serta melibatkan Tim Pengembang Kurikulum dan Tim Pengembang Sekolah. Diharapkan dengan keterlibatan semua pihak terkait dalam menyusun KTSP ini, muatan di dalamnya menjadi pedoman yang disepakati dan dicita-citakan bersama.

Pondok Pesantren Walisongo Sragen, adalah suatu pondok terbesar di sragen. Ponpes walisongo sragen dibawah asuhan Abah KH Ma’ruf Islamuddin, ini bertempat di Sungkul, Plumbungan, Karangmalang, Sragen. Ponpes yang bisa disebut ponpes yang bertempat di tempat strategis ini, telah memiliki sekitar 700 santri putra maupun putri.

Dengan lokasi di central kota sragen tugu adipuro ke selatan sekitar 500 m. Terdapat plat besar bertuliskan “Pondok Pesantren Walisongo Sragen”.

Pendidikan dalam pondok pesantren walisongo sragen mulai dari, KB-TK, SDI Walisongo, SMP Walisongo, SMA Walisongo, dan Mu’allimin Walisongo. Tidak hanya ponpes berbasis salafiyyah dengan nahwu sorof, ’imrithi, maupun fiqihnya. Pondok pesantren ini juga memiliki sejumlah program unggulan lain.

Pendidikan idealnya dapat menjadi agen perubahan, karena pendidikan dapat memberikan arah yang jelas bagaimana menghadapi perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan akan terasa dapat dilalui dengan baik dan dijadikan sebagai landasan dalam mewujudkan pembangunan masyarakat Indonesia apabila pendidikan dijadikan pilar utama dalam perubahan tersebut.

Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, pendidikan masih jauh untuk dapat dikatakan sebagai agen perubahan. Hal tersebut dikarenakan variatifnya tantangan seperti masalah mutu pendidikan, relevansi pendidikan, akses pendidikan, dan manajemen sistem pendidikan nasional. Tantangan tersebut mesti dihadapi untuk dapat mewujudkan manusia Indonesia yang seutuhnya serta mewujudkan cita-cita bangsa.

SMA Walisongo merupakan satuan pendidikan yang memiliki potensi bagus dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Penyenggaraan pendidikan dengan mengacu pada aturan pemerintah dengan tambahan materi agama islam serta pemupukan kemandirian siswa dengan konsep boarding school membuat sekolah ini pantas menarik minat masyarakat. Pendidikan reguler, agama, dan pengembangan karakter tersebut menjadi daya tarik orang tua untuk menaruh kepercayaan urusan pendidikan terhadap institusi ini.

Profil SMA Walisongo Karangmalang Sragen

Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia.

Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan (Permen No. 22 tahun 2006).

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan menengah di SMA Walisongo Karangmalang dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  2. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya (BSNP, 2006).

1. Organisasi Ikatan Santri Walisongo (ISWA)

Organisasi ini merupakan suatu organisasi tertinggi di pondok walisongo. Gus Mustawa (putra Abah KH Ma’ruf Islamuddin) lah yang mencetuskan dibuatnya organisasi ini. ISWA yang berdiri sejak 2012 ini dipimpin atau diikuti oleh seluruh santri, yang menjadi pengurus ISWA adalah kakak-kakak kelas 11 SMA. Sejumlah angkatan yang telah memimpin organisasi ini yaitu, Sang Pelopor, The Second, KOMPAS, Khalifa, Az-Zam, Argani,dan yang sekarang tengah berjalan dalam masa kepemimpinannya yaitu Gendhewa Generation. Tidak semata-mata organisasi ini dibentuk, akan tetapi banyak tujuan mengapa organisasi ini berdiri, antara lain.

  1. Untuk melatih berorganisasi
  2. Melatih bagaimana dipimpin dan memimpin

Dan untuk lebih jelasnya anda bisa tahu dengan mondok sendiri di pondok walisongo sragen ini.

2. Muhadatsah bahasa arab

Program berbahasa arab ini ditujukan untuk seluruh santri pondok pesantren walisongo sragen. Bahasa arab telah menjadi percakapan sehari-hari di pondok ini. Dengan dibentuknya ISWA Bagian Bahasa yang mengontrol berjalannya program bahasa arab ini. Diharapkan seiring bertambahnya tahun, maka program bahasa arab di pondok ini semakin maju untuk kedepannya. Pemberian kosakata minimal 2x sehari, dan mengadakan muhadatsah(percakapan) di hari minggu pagi, diharapkan program bahasa arab dapat berjalan dengan baik.

3. Extrakulikuler

Yang menjadi kekhasan dari ponpes walisongo juga terdapat dalam ekstrakulikulernya. Ada banyak sekali ekstra di pondok pesantren walisongo sragen ini, misal:

  • Sepak bola
  • Rebana (vocal, keyboard, perkusi)
  • Multimedia
  • Badminton
  • Tata rias
  • Menjahit
  • Jaringan
  • Administrasi
  • Dan masih banyak lagi.

Sebagai salah satu bukti kemarin ponpes walisongo sukses menjadi runner up dalam Liga Santri Nusantara (LSN) dalam ajang sepak bola. Ekstra rebana telah menjuarai banyak sekali perlombaan hadrah dalam kota maupun luar kota (Muna_red).