Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater – Pada hakikatnya semua manusia dianugerahi oleh Tuhan apa yang disebut “sense of beauty”, rasa keindahan. Meskipun ukurannya tidak sama pada setiap orang, jelas setiap manusia sadar atau tidak menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita memantas diri dalam berpakaian, memilih dasi, memilih sepatu, dan berdandan (sekedar contoh).

Senantiasa rasa keindahan berperan memandu perilaku kita untuk memilih apa yang kita anggap menampilkan citra harmonis yang pada umumnya kita sebut tampan, gagah, cantik, ayu, rapi. Dalam bahasa sehari-hari, yaitu penggunaan kata “lain” menyebut fenomena keindahan. Demikian pula dalam melengkapi kebutuhan hidup, kita selalu dipandu oleh rasa keindahan.

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater

Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari,

Katakanlah dalam menata arsitektur rumah tinggal, memilih perabotan rumah tangga, televisi, kulkas, otomotif, sampai kepada pembelian piring, sendok, garpu, dan segala macam barang yang kita gunakan di kota. Demikian pula pada kehidupan di desa, hampir semua benda yang dibutuhkan memiliki kaitan dengan rasa keindahan dan seni, seperti kain tenun, keris, batik, ornamen, busana, keramik, perhiasan, alat musik, dan banyak lagi.

Hal yang sama terdapat pula di daerah pedalaman, betapapun sederhana tingkat kehidupan manusia, dalam perlengkapan dan peralatan hidupnya, seperti busana, tata rias, motif ornamen, tari-tarian, musik, dan banyak sekali karya-karya seni etnik yang sangat indah dan mengagumkan. Dengan uraian ini, menjadi jelas bahwa seni terdapat di mana-mana. Itulah sebabnya kesenian secara antropologis ditempatkan sebagai unsur kebudayaan yang universal, sama seperti rasa keindahan yang juga bersifat universal.

Tingkat kepekaan perasaan keindahan akan berkembang lewat kegiatan menerima (sikap terbuka) kepada semua manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni lukis, seni patung, seni grafis, desain, dan kriya) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya (desain produk atau industri, desain interior, desain komunikasi visual, desain tekstil, dan berbagai karya kriya (kriya keramik, tekstil, kulit, kayu, logam dan lain-lain). Melalui proses penginderaan, kita mendapatkan pengalaman estetis.

Dari proses penghayatan yang intens, kita akan mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan mengamati karya seni rupa murni dan seni rupa terapan, dalam arti praksis adalah kemampuan mengklasifikasi, mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan dan mengevaluasi serta menyimpulkan makna karya seni.

Aktivitas ini dapat dilatih sebagai kemampuan apresiatif secara lisan maupun tulisan. Aktivitas pendukung, seperti membaca teori seni, termasuk sejarah seni dan reputasi seniman, dialog dengan tokoh seniman serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi, sehingga para siswa dapat menyertakan argumentasi yang logis dalam menyimpulkan makna seni.

Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan dari sensasi (reaksi panca indra kita mengamati seni), emosi (rasa keindahan), impresi (kesan pencerapan), interpretasi (penafsiran makna seni), apresiasi (menerima dan menghargai makna seni, dan evaluasi (menyimpulkan nilai seni). Aktivitas ini berlangsung ketika seseorang mengindra karya seni, biasanya sensasi tersebut diikuti dengan aktivitas berasosiasi, melakukan komparasi, analogi, diferensiasi, dan sintesis. Pada umumnya karya seni yang dinilai baik akan memberikan kepuasan spiritual dan intelektual bagi pengamatnya.

Source: KemFOdikbud

9 Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan dalam Ilmu Biologi

9 Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan dalam Ilmu Biologi

9 Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan dalam Biology Science yang dimaksud adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang peneliti. Untuk dapat melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula, peneliti harus memiliki sifat-sifat berikut ini.

9 Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan dalam Ilmu Biologi

1. Mampu Membedakan Fakta dan Opini

Fakta adalah suatu kenyataan yang disertai bukti-bukti ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sedangkan opini adalah pendapat pribadi dari seseorang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya sehingga di dalam melakukan studi kepustakaan, seorang peneliti hendaknya mampu membedakan antara fakta dan opini agar hasil penelitiannya tepat dan akurat serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

2. Berani dan Santun dalam Mengajukan Pertanyaan

Peneliti yang baik selalu mengedepankan sifat rendah hati ketika berada dalam satu ruang dengan orang lain. Begitu juga pada saat bertanya, berargumentasi, atau mempertahankan hasil penelitiannya akan senantiasa menjunjung tinggi sopan santun dan menghindari perdebatan secara emosi. Kepala tetap dingin, tetapi tetap berani mempertahankan kebenaran yang diyakininya karena yakin bahwa pendapatnya sudah dilengkapi dengan fakta yang jelas sumbernya.

Baca juga: Glosarium Biologi [Kamus Biologi Lengkap]

3. Mengembangkan Keingintahuan

Peneliti yang baik senantiasa haus menuntut ilmu, ia selalu berusaha memperluas pengetahuan dan wawasannya, tidak ingin ketinggalan informasi di segala bidang, dan selalu berusaha mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin canggih dan modern.

4. Kepedulian Terhadap Lingkungan

Dalam melakukan penelitian, peneliti yang baik senantiasa peduli terhadap lingkungannya dan selalu berusaha agar penelitian yang dilakukannya membawa dampak yang positif bagi lingkungan dan bukan sebaliknya, yaitu justru merusak lingkungan. Semua usaha dilakukan untuk melestarikan lingkungan agar bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

5. Berpendapat Secara Ilmiah dan Kritis

Pendapat seorang peneliti yang baik selalu bersifat ilmiah dan tidak mengada-ada tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di samping itu, peneliti juga harus kritis terhadap permasalahan yang terjadi dan berkembang di sekitarnya.

6. Berani Mengusulkan Perbaikan atas Suatu Kondisi

Peneliti yang baik senantiasa berani dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang harus dihadapinya jika sudah mengusulkan sesuatu. Usulan tersebut selalu diembannya dengan baik dan dilaksanakan semaksimal mungkin, kemudian diwujudkannya dalam bentuk nyata sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain.

7. Bekerja Sama

Dalam kehidupan sehari-hari, peneliti yang baik mampu bekerja sama dengan orang lain dan tidak individualis atau mementingkan diri sendiri. Ia meyakini bahwa dirinya tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain sehingga keberadaannya senantiasa diharapkan oleh orang lain.

8. Jujur Terhadap Fakta

Peneliti yang baik harus jujur terhadap fakta dan tidak boleh memanipulasi fakta demi kepentingan penelitiannya karena penelitian yang baik harus berlandaskan pada studi kepustakaan yang benar agar kelak jika orang lain melakukan penelitian yang sama, didapatkan hasil yang sama pula. Apa pun fakta yang diperolehnya, ia harus yakin bahwa itulah yang sebenarnya.

Baca juga: Cara Kerja Mata Manusia dan Bagian-bagiannya

9. Tekun

Sebuah penelitian kadang kala memerlukan waktu yang pendek untuk menghasilkan sebuah teori, tetapi kadang kala memerlukan waktu yang sangat lama, bahkan bertahun-tahun. Seorang peneliti yang baik harus tekun dalam penelitian yang dilakukannya, tidak boleh malas, mudah jenuh, dan ceroboh, juga harus rajin, bersemangat, serta tidak mudah putus asa. Dengan demikian, ia akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Setidaknya, itulah 9 Sikap Ilmiah dalam Biologi Science. Semoga bermanfaat, salam. (M. Sahil Luqman)

Sejarah Perkembangan Ilmu Kimia dalam Berbagai Bidang

Sejarah Perkembangan Ilmu Kimia dalam Berbagai Bidang

Sejarah Asal Mula Ilmu Kimia – Pada dasarnya, ilmu kimia moderen telah berkembang sekitar 2 abad yang lalu yang diketahui dari study kuno yang dilakukan para ahli Alkimia atau ahi alkemi selama 2000 tahun sebelumnya. Dengan begitu, maka pertama mucul bukanlah ilmu kimia melainkan Alkimia.

Sebelumnya, sebagian orang memang belajar dan belajar ilmu kimia dengan tujuan yang sama, yakni ingin merubah logam biasa menjadi bentuk lain yang memiliki nilai lebih tinggi. Sebut saja misalkan emas, tambaga, timah dll yang mempunyai nilai yang mahal.

Ilmu Alkimia dapat diketahui dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para filsuf (alhi filsafat) tukang sihir, dan para pengamat astronomi (pengamat bintang ahli nujum). Tulisan awal tentang ilmu Alkimia diketahui berasal dari Mesir (1500 SM), Cina (600 SM), dan Yunani (500 SM). Jika diartikan dari bahawa Arab, Alkimia berasal dari kata al-Khem yang berarti “seni dari Mesir”.

Ketika melihat fakta sejarah demikian, kemungkinan besar Alkimia juga dipelajari pertama kali oleh orang Islam di Mesir. Wallohu a’lam.
Para Ahli Alkimia berpendapat, bahwa di alam semesta ini hanya terdiri dari empat komponen utama, yakni udara, air, tanah dan api.Setiap unsur memiliki dua dari keemoat sifat tadi, dingin, kering, panas dan basah.

Kemuculan Teori Alkimia di Dunia

Sejarah Asal Muasal Ilmu Kimia

Dari sejarah tersebut, maka teori alkimia menjelaskan tentang keempat unsur penyusun semesta ini seperti anggapan mereka. Menurut mereka, Api mlerupakan gabungan dari panas dan kering; tanah gabungan dari basah da dingin; udara gabungan dari kering dan dingin; dan air gabungan dari basah dan panas. Penjelasan tersebut menjadi salah satu dasar penjabaran peristiwa mendidih, mencair, membeku,menyublim dll.

Dari berbaagai penelitian tersebut, akhirnya ilmu Alkimia mencapai puncaknya sekitar 1400 Masehi. Setelah masa itu, orang -orang mulai meragukan berbagai teori dari ilmuan Alkimia. Dengan proses kemunduran Alkimia, banyak orang mulai berbodong-bondong melakukan uji coba dengan lebih teliti untuk membuktikan teori masing-masing.

Sehingga pada akhirnya, muncul ide gagasan guna mempermudah penelitian mereka, faktanya juga masih digunakannya ilmu Alkimia dan terlahir ilmua Kimia. Kedua teori keilmuan tersebut disinergikan bersama-sama. Kelahiran ilmu kimia tersebut terjadi kurang lebih adab ke -17.

Tanda kebangkitan ilmu kimia dengan penerbitan sebuah buku dengan judul The Sceptical Chymist oleh ilmuan Inggris bernama Robert Boyle (tahun 1627-1691). Boyle menunjukkan penelitian dari konsep Alkimia sebelumnya dengan eksperimen yang membuktikan bahwa sistem empat unsur tidak dapat menjelaskan sifat untuk banyak Zat.
Boyle menjelaskan bahwa setiap unsur adalah zat tunggal murni yang tidak dapat dipecah lagi menjadi zat yang lebih sederhana. Konsep inilah yang sampai saat ini “dikenal” dengan sebutan “atom”.
Dengan kemunculan teori inilah, seiring berjalannya waktu teori Alkimia mulai luntur dan banyak para ilmuan mulai gencar meneliti zat-zat untuk sekedar mengetahui sifat-sifatnya.

Perkembanga Ilmu Kimia

Sekitar tahun 1766, ahli kimia asal Inggris bernama Henry Cavandish menemukan cara membuat gas hidrogen dengan menuangkan asam pada logam, seperti besi dan seng. Dari hal itu, beliau mengatakan bahwa gas tersebut merupakan “udara yang mudah terbakar” dengan terlihatnya percikan api korek apai mudah sekali membakarnya.

Penelitian berlanjut. Sekitar tahun 1772, ahli kimia Swedia bernama Carl Scheele (1742-1786) menemukan oksigen dan udara. Pada tahun 1781 Kimiawan Inggris bernama Joseph Priestley (1733-1804) menunjukkan bahwa air terbentuk manakala hidrogen terbakar di udara. Selanjutnya, Cavendish membuat air dengan membakar hidrogen dalam oksigen. Semua pekerjaan eksperimen ini dikumpulkan selama 15 tahun.

Baca juga: Hakikat Ilmu Fisika yang Jarang Diketahui

Pada tahun 1783, kimiawan Perancis bernama Antoine-Laurent Lavoisier mengulang eksperimen Cavendish dan menggunakan gagasan tentang unsur untuk menjelaskan hasil percobaan yang telah ada sebelumnya.

Dia juga mengatakan bahwa logam adalah unsur , sedangkan asam adalah senyawa yang mengandung hidrogen. Jika asam dan logam bercampur, maka logam menggantikan tempat hidrogen yang terlepas dalam bentuk gas. Gagasan Lavoisier, bahwa unsur-unsur dapat memisahkan diri dan dapat bergabung lagi satu sama lai dalam kombinasi berbeda. Dan pernyataan ini menjadi salah satu dasar perkembangan ilmu kimia moderen saat ini. (M. Sahil Luqman)

Hakikat Ilmu Fisika yang Jarang Diketahui

Hakikat Ilmu Fisika yang Jarang Diketahui

Fisika merupakan salah satu cabang ilmu sains selain Kimia dan Biologi. Lalu sebenarnya apa sih ilmu sains itu? Ilmu sains adalah suatu ilmu pengetahuan yang memperlajari gejala alam. Dalam proses memperlajari ilmu alam, ada tiga hal pokok yang perlu dilakukan, yakni pengamatan, eksperimen (percobaan) dan analisa.

Nah, karena Fisika merupakan salah satu ilmu yang mempelajari alam, maka ia termasuk dala kategori ilmu sain, begitulah penjelasan ringkasnya.

Secara pokok, Fisika mempelajari materi dan energi beserta interaksi antara keduanya. Sebagai contoh, kita sering kali mengetahui bahwa banyak ilmuwan yang mempelajari gelombang cahaya beserta instalasi listrik yang mampu dihasilkannya; atau mendengar bahwa ilmuwan mengembangkan ilmu PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), dan tentu saja akan berkaitan dengan reaksi fisi fusi dari tembakan netron dan atom reaktif.

Apakah kita boleh mengatakan bahwa sains merupakan sebuah produk pengetahuan?

Berdasarkan pandangan, salah satunya Chollete dan Chiappetta pada tahun 1994 menyatakan bahwa sains merupakan a body of knowledge, a way of thinking, and a way of investigating. Artinya saina merupakan sebuah kumpulan pengetahuan, sikap cara berfikir serta proses untuk melakukan penyelidikan.

Secara runtut, berikut ini adalah mode lahirnya ilmu Fisika:

  1. Obervasi (pengamatan)
  2. Perumusan masalah
  3. Penyusunan hipotesis
  4. Eksperimen
  5. Kesimpulan
  6. Ditemukannya teori dan konsep

Ke-6 langkah di atas menjadi dasar fundamental yang mengakibatkan ilmu fisika mampu lahir dan berkembang secara kontinu.

Berdasarkan hal itulah, secara simpel dikatakan bahwa,
Hakikat ilmu Fisika adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari materi beserta energi yang menyertainya serta interaksi imbal balik antara keduanya dengan proses metode ilmiah. Tiga hal pokok yang terkandung di dalamnya berupa konsep, prinsip dan teori.

Baca juga: Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia

Demikian sekilas informasi mengenai Hakikat Ilmu Fisika yang Wajib Anda Tahu. Semoga bermanfaat, salam.

Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia

Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia

Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia – Residu (hasil pengolahan) merupakan fraksi terbawah dalam minyak bumi dengan titih didih tertinggi. Oleh karena itu, pada suhu kamar (antara 20-30 deajat celcius) umumnya residu tersebut berbentuk padat.

Beberapa residu minyak bumi yang dapat digunakan dalam industri Petrokimia antaralain sebagai oli (minyak pelumas mesin bermotor), gemuk, malam dan aspal. Dalam artikel ini akan sedikit kami ulas beberapa pemanfaatan dari residu tersebut.

Artikel lanjutan: Cara Kerja Mata Manusia dan Bagian-bagiannya

Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia

1. Oli (Minyak Pelumas)

Minyak pelumas atau yang sering disebut oli terdapat dalam bagian miyak mentah yang mempunyai daerah titik didih tertinggi, yakni sekitar 400 derajar C ke atas. Fraksi minyak pelumas ini dapat dipisahkan dari residu lainnya dengan cara distilasi hampa.

Minyak pelumas terdiri atas senyawa hidrokarbon seperti alkana, sikloalkana, aromatik, dan sejumla senyawa organik yang mengandung oksigen dan belerang. Minyak pelumas sendiri digunakan untuk memberikan lapisan minyak antara dua permukaan yang saling bergesekan, sebut saja mesin kendaraan bermotor seperti Sepeda Motor, Mobil dll. Tujuan keberadaan minyak pelumas tersebut untuk meredam atau mengurangi panas hasil gesekan kedua permukaan mesin tersebut.

2. Gemuk

Gemuk merupakan minyak pelumas yang dipertebal dengan jalan mendispersikannya dengan sabun atau lempung. Disamping sebagai bahan penebal, ke dalam gemuk hampir sama dengan minyak pelumas, yaitu berfungsi untuk melindungi kedua permukaan sebuah mesin dari hasil gesekan.

3. Malam

Malam merupakan senyawa hidrokarbon yang mempunyai titik didih sekitar 45-100 derajat celcius, dengan kandungan jumlah atom C sekitar 20 sampai 75 buah. Malam dapat dibagi menjadi dua, yakni Parafin dan Kristal Mikro. Malam parafin mengandung sedikitnya 20-5 atom karbon dalam setiap berat massa molekulnya 300-350, sedangkan kristal mikro tersusun dari 35-75 atom karbon setiap molekulnya dengan berat molekul rata-rata 600-1000.

Malam sendiri digunakan untuk melaipis kertas, papan, pembuatan lilin, korek api, kosmetik, kain batik, isolasi listrik serta komponen tinta cetak

4. Aspal

Aspa merupakan salah satu residu minyak bumi yang banyak sekali digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya jalan raya. Aspal dikenal sebagai bitumen setengah padatan berwarn hitam pekat yang terdiri atas partikel kolbid aspalten yang terdispersi dalam resin dan konstituen minyak.

Aspalten dipisahkan dari resin dan konstituen minyak dengan cara melarutkannya dalam nafta. Namun, aspaten tidk larut dalam nafta dan mengendap sebagai serbuk yang berwarna hitam, dan itulah yang dinamakan aspal.

Aspal memiliki titik didih sekitar 118 – 125 derajat celcius. Selain digunakan sebagai bahan pengerasan jalan raya, juga digunakan untuk melapisi kebocoran atap, pipa dan batu baterai.

Artikel lanjutan: Sejarah Asal Muasal Ilmu Kimia

Demikian sekilas informasi mengenai Penggunaan Residu Minyak Bumi dalam Kehidupan Manusia. Semoga bermanfaat, salam.